Selasa, 31 Agustus 2010

Pria Juga Bisa Menopause



VIVAnews - Menopause selalu dikaitkan dengan perubahan hormon pada wanita seiring usia. Studi baru-baru ini mengungkap, hilangnya kemampuan reproduksi akibat penuaan itu juga terjadi pada pria.

Kondisi itu biasanya muncul lewat gejala SLOH atausymptomatic late-onset hypogonadism. Terjadi saat testis tidak cukup menghasilkan testosteron, hormon yang memainkan peran penting dalam pertumbuhan dan pengembangan maskulin.

Gejala menopause pria seperti dikutip dari laman Times of India hampir sama dengan wanita. Merasa kelelahan, perubahan suasana hati, keinginan untuk seks menurun, rambut rontok, kurang konsentrasi dan penambahan berat badan.

"Ini adalah kelainan yang sangat lazim.Kami memperkirakan bahwa 95 persen kasus tidak terdiagnosis dan karenanya tidak diobati. Padahal, bila diabaikan, efek serius dapat mengganggu kualitas hidup seseorang," kata Robert Brannigan, MD, urolog di Northwestern Memorial Hospital.

"Menopause pada wanita, terjadi penurunan produksi hormon dalam waktu yang relatif cepat. Sedangkan pria mengalami perubahan hormon lebih lambat, dengan tingkat testosteron menurun sekitar satu persen setiap tahun yang dimulai pada akhir usia tiga puluhan," Brannigan menambahkan.

Menurut Brannigan, pada usia 70 tahun, penurunan tingkat testosteron pria bisa mencapai 50 persen atau lebih dibandingkan dengan tingkat awal. Tetapi catatan bahwa usia tua bukan satu-satunya faktor penentu. Genetik juga dapat menyebabkan menopose pada pria lebih cepat datang.

"Kami melihat pria lebih rentan mengalami hypogonadism saat ini dibanding sepuluh tahun yang lalu. Namun, banyak pria lebih memilih diam karena kurangnya kesadaran gangguan sekitarnya," kata Brannigan.

Dokter memperingatkan bahwa hypogonadism telah dikaitkan dengan penyakit kronis seperti kolesterol tinggi, diabetes dan penyakit jantung. Ini juga berkaitan erat dengan ketidaksuburan. "Penyakit ini bukanlah sesuatu yang harus diabaikan," kata Brannigan.

hemodialisis

DEFINISI
Hemodialisis adalah prosedur tindakan untuk memisahkan darah dari zat-zat sisa atau racun yang dilaksanakan dengan mengalirkan darah melalui membran semipermiabel dimana  zat sisa atau racun ini dialihkan dari darah ke cairan dialisat yang kemudian dibuang, sedangkan darah kembali ke dalam tubuh. Hal ini sesuai dengan arti dari hemo yang berarti darah dan dialisis yang berarti memindahkan. Hemodialisis merupakan metode yang paling umum digunakan dalam pengobatan gagal ginjal stadium akhir dan permanen.
Pada proses ini digunakan membran buatan semipermeabel yang berfungsi sebagai .ginjal buatan. Juga dipergunakan suatu mesin untuk mengalirkan darah pasien melalui salah satu sisi permukaan dari membran semi-permeabel sebelum dikembalikan ke sirkulasi darah tubuh pasien. Pada saat yang sama cairan hemodialisis dipompakan ke dalam mesin dan dialirkan melalui sisi lain dari permukaan semipermeabel, sehingga terjadi pertukaran ion antara darah pasien dengan cairan hemodialisis. Melalui membran semipermeabel yang mengandung lubang-lubang kecil tersebut produk-produk sisa dari darah pasien seperti urea, kreatinin, fosfat, kalium dan lainnya termasuk kelebihan air serta garam dari tubuh kan lewat dan masuk ke dalam cairan hemodialisis yang mengalir dengan arah berlawanan dari aliran darah pasien. Walaupun demikian, protein dan sel-sel darah tidak dapat menembus melalui lubang-lubang kecil dalam membran semi-permeabel tersebut. Bakteri dan virus yang mungkin mengkontaminasi cairan hemodialisis juga tidak dapat masuk ke dalam aliran darah pasien melalui membran tersebut karena ukurannya lebih besar dari lubang-lubang kecil tersebut.

TUJUAN HEMODIALISIS
Alat hemodialisis merupakan alat yang berada di luar tubuh yang dipergunakan sebagai pengganti fungsi ginjal dan pemakaiannya biasanya dilakukan pada pasien yang menderita gagal ginjal tahap akhir. Karena hemodialisis merupakan terapi untuk mengganti fungsi ginjal yang rusak, maka hemodialsis memilki tujuan yang sama dengan fungsi ginjal, seperti membersihkan produk-produk dalam tubuh yang bersifat racun, mengeluarkan kelebihan garam, dan mengeluarkan kelebihan air. Hemodialisis juga dapat membantu dalam mengontrol tekanan darah dan menjaga keseimbangan ion-ion yang penting dalam tubuh, seperti kalium, natrium, kalsium, dan bikarbonat. Terapi dengan menggunakan hemodialisis ini tidak bertujuan untuk mengembalikan fungsi ginjal, melainkan hanya mengganti sebagian fungsi ginjal agar dapat meminimalisasi kerusakan organ yang lain.

INDIKASI HEMODIALISIS
Indikasi tindakan terapi dialisis, yaitu :
1. Indikasi absolut
Beberapa yang termasuk dalam indikasi absolut, yaitu perikarditis, ensefalopati/neuropati azotemik, bendungan paru dan kelebihan cairan yang tidak responsif dengan diuretik, hipertensi refrakter, muntah persisten, dan Blood Uremic Nitrogen (BUN) > 120 mg% dan kreatinin > 10 mg%.

2. Indikasi elektif
Indikasi elektif, yaitu Laju Filtrasi Glomerolus (LFG) antara 5 dan 8 mL/menit/1,73m², mual, anoreksia, muntah, dan astenia berat (Sukandar, 2006).

Indikasi pada gagal ginjal stadium terminal
Indikasi dilakukannya hemodialisis pada penderita gagal ginjal stadium terminal antara lain karena telah terjadi:
Kelainan fungsi otak karena keracunan ureum (ensepalopati uremik)
Gangguan keseimbangan asam-basa dan elektrolit misalnya: asidosis metabolik, hiperkalemia dan hipercalsemia
Edema paru sehingga menimbulkan sesak nafas berat
Gejala-gejala keracunan ureum (uremic symptoms)

Indikasi pada gagal ginjal kronik
Pada umumnya indikasi dialisis pada Gagal Ginjal Kronik adalah bila laju filtrasi glomerulus (GFR) kurang dari 5mL/menit (normalnya GFR mencapai 125 mL/menit) dan dianggap baru perlu di mulai bila dijumpai salah satu dari hal tersebut di bawah:
1. Keadaan umum buruk dan gejala klinisnya nyata
2. Serum Kalium > 6 meq/L
3. Ureum darah > 200 mg/dl
4. pH darah < 7,1
5. Anuria berkepanjangan (> 5 hari)
6. Fluid overloaded (papdi jilid 1 edisi V)

Indikasi dialisis pada gagal ginjal akut
Terapi dialisis pada gagal ginjal akut memudahkan dalam pemberian cairan dan nutrisi. Indikasi terapi dialisis ditetapkan berdasarkan berbagai pertimbangan, bila diberikan pada saat yang tepat dan cara yang benar akan memperbaiki morbiditas dan mortalitas. Pada gagal ginjal akut berat yang pada umumnya dirawat di unit perawatan intensif terapi dialisis diberikan lebih agresif. Menunda terapi dialisis pada gagal ginjal akut berat hanya akan memperburuk gangguan fisiologis dengan konsekuensi peningkatan mortalitas. Adapun indikasi dialisis pada gagal ginjal akut, antara lain;
  • Severe fluid overload
  • Refractory hypertension
  • Hiperkalemia yang tidak terkontrol
  • Mual, muntah, nafsu makan kurang, gastritis dengan pendarahan
  • Letargi, malaise, somnolence, stupor, coma, delirium, asterixis, tremor, seizures, perikarditis (risiko pendarahan atau tamponade)
  • Perdarahan diathesis (epistaksis, pendarahan gastrointestinal dan lain-lain)
  • Asidosis metabolik berat
  • Blood urea nitrogen (BUN) > 70 – 100 mg/dl

KONTRA INDIKASI HEMODIALIS
Dalam kaitan dengan kontraindikasi absolut hemodialysis, ada sangat sedikit kontra indikasi untuk hal tersebut, dan mungkin yang yang paling sering adalah tidak adanya akses vaskuler dan toleransi pada hemodialysis prosedur yang buruk, selain juga terdapat ketidakstabilan hemodinamik yang parah.
Kontraindikasi Relatif Terapi Dialisis
1. Malignansi stadium lanjut (kecuali multiple myeloma)
2. Penyakit Alzheimer’s
3. Multi-infarct dementia
4. Sindrom Hepatorenal
5. Sirkosis hati tingkat lanjut dengan enselopati
6. Hipotensi
7. Penyakit terminal
8. Organic brain syndrome

PROSES HEMODIALISIS
  1. Pra Hemodialisis
A. Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum menyiapkan mesin HD :
- Mesin diperiksa harus dalam keadaan siap pakai.
- Hubungkan mesin dengan aliran listrik.
- Hubungkan mesin dengan saluran air.
- Drain line ditempatkan di saluran pembuangan tidak dalam keadaan tersumbat.
- Jerigen tempat cairan dialisat terisi sesuai jumlah yang dibutuhkan untuk satu kali dialisa.

B. Persiapan dialisat
Dialisat adalah cairan yang digunakan pada proses HD, terdiri dari camuran air dan elektrolit yang mempunyai konsentrasi hampir sama dengan serum normal dan mempunyai tekanan osmotic yang sama dengan darah.
Menyiapkan / mencampur Dialisat
1. Batch Sistem : Sebelum HD dimulai, dialisat disiapkan dulu dalam suatu tempat dengan jumlah tertentu sesuai kebutuhan. Biasanya perbandingan air dengan Dialysate Batch Concentrate adalah 34:1.
2. Proportioning system : Adalah system penyediaan dialisat dimana dialisat dibuat dicampur secara otomatis oleh mesin selama HD berlangsung.
C. Persiapan Air
Air untuk dialisat seharusnya tidak mengandung zat / elektrolit / mikroorganisme dan benda asing lainnya karena itu untuk mendapatkan air yang ideal untuk dialysis sehingga perlu dilakukan pengolahan air / water treatment.

Pengolahan air / water treatment :
1. Saringan / filter
a. Penyaring sedimen, untuk menyaring partikel.
- Pre filter (100 U)
- Sebelum masuk ke mesin HD (5 U)
- Sebelum masuk selang dialyzer (1 U)

b. Penyaring penyerap / adsorption filter
- Arang / carbon : untuk menyerap zat-zat chlorine bebas, chloraming, bahan organic atau pyrogen.
- Besi : untuk menyerap besi dan mangan.

2. Sistem Reverse Osmosis
Air dengan tekanan cukup tinggi dialirkan melalui alat yang mempunyai membran semi permeable sehingga dihasilkan air yang murni bebas (kesadahan / CaCO kurang dari 1,8 mg/L).

D. Persiapan Alat-alat dan Obat-obatan
1. Peralatan kedokteran
Tensimeter dan stetoscope
Timbangan berat badan
Tabung oksigen lengkap
Alat KG
Slym Zuiger
Tromol (duk, kassa, klem)
Bak spuit, kom kecil
Korentang dan tempatnya
Klem-klem (besar dan kecil)
Gunting
Bengkok
Gelas ukuran
Zeil / karet untuk alas tangan
Sarung tangan
Kassa
Plester / band aid
Verband

2. Alat-alat khusus
Dyalizer
Blood line
AV fistula
Dialisat pekat
Infus set
Spuit 1 cc, 3 cc, 20 cc.
Conducturty meter

3. Obat-obatan
Lidocain, novocain
Alcohol, betadin
Heparin, protamin
Sodium bikarbonat

E. Menjalankan Mesin HD
1. Periksa saluran listrik dan saluran air
2. Hubungkan slang water inlet ke kran air dan slang water outlet ke lubang pembuangan
3. hubungkan kabel power dengan stop kontak
4. siapkan cairan dialisat dalam jerigen sebanyak yang dibutuhkan, perhatikan cairan yang diperlukan apakah standar atau free potassium
5. Hidupkan mesin dengan posisi rinse selama 15 menit, bila mesin mengandung formalin, maka posisi rinse lebih lama (30 menit)
6. Setelah rinse selesai, masukan slang untuk concentrate ke dalam jerigen dialisat.
7. Lampu temperatur, lampu conductivity dan lampu concentrate di mesin akan warna merah, tunggu lampu 2 tersebut sampai warna hijau.
8. Pindahkan tombol ke posisi dialisa bila lampu sudah berwana hijau.
9. Mesin HD siap digunakan.

F. Persiapan Sirkulasi Darah
Dalam menyiapkan dialyzer dan blood lines pada mesin HD pperlu dilakukan beberapa hal sebagai berikut:
1. Soaking yaitu melembabkan dialyzer (hubungkan dialyzer dengan sirkulasi dialisat).
2. Rinsing yaitu membilas dialyzer dan blood lines
3. Priming yaitu dialyzer dan blood lines.

G. Persiapan pasien
1. Persiapan mental
Memberitahukan pada pasien bahwa akan dilakukan HD
Memberi penjelasan dan motivasi mengenai proses HD dan komplikasi yang mungkin terjadi selama HD.

2. Persiapan fisik
Menimbang berat badan
Observasi keadaan umum
Observasi tanda-tanda vital
Mengatur posisi



II. PROSES PELAKSANAAN HEMODIALISA
1) Menyiapkan sarana hubungan sirkulasi
Untuk menghubungkan sirkulasi darah dari mesin dengan sirkulasi sistemik dilakukan dengan :

a. Cara Sementara
Cara ini dilakukan dengan memakai kateter ataupun jarum di vena femoralis, vena subclavian, atau vena jugularis untuk inlet dan untuk outlet dapat dipilih salah satu vena di tangan.


b. Cara permanent
cara ini dilakukan dengan membuat shunt antara lain
c mino shunt ……..
seribner shunt ……..


MEKANISME KERJA HEMODIALISIS
Alat hemodialisis merupakan suatu rangkaian yang terdiri dari :
  1. Selang
  2. Monitor dari tekanan arteri
  3. Pompa darah
  4. Pompa heparin
  5. Monitor tekanan masuk dialiser
  6. Dialiser
  7. Clamp detektor udara
  8. Monitor tekanan vena
  9. Penyaring udara dan detektor udara
Gambar 1 Skema rangkaian hemodialisis


Mekanisme utama pada proses hemodialisis adalah darah dipompakan dari dalam tubuh masuk ke dalam suatu ginjal buatan yaitu dialiser yang terdiri dari 2 kompartemen yang terpisah. Darah pasien dipompa dan dialirkan ke dalam kompartemen darah yang dibatasi oleh selaput semipermeabel buatan (artifisial) dengan kompartemen dialisat yang kemudian akan dibersihkan pada dializer dan selanjutnya akan dipompakan kembali ke dalam tubuh pasien. Cairan dialisis dan darah yang terpisah akan mengalami perubahan konsentrasi karena zat terlarut berpindah dari konsentrasi yang tinggi kearah konsentrasi yang rendah sampai konsentrasi zat terlarut sama di kedua kompartemen atau berdifusi. Dengan menggunakan kompeterisasi, beberapa parameter penting dapat dimonitor seperti laju darah dan dialysat, tekanan darah, detak jantung, daya konduksi maupun pH.
Melalui Aretriovenous Fistula, aliran darah dari tubuh pasien dialihkan ke mesin hemodialisis yang terdiri dari selang Inlet/arterial (menuju ke mesin), dan selang Outlet/venous (dari mesin kembali ke tubuh). Jumlah darah yang menempati sirkulasi darah di mesin mencapai 200 mL. Darah akan dibersihkan dari sampah-sampah hasil metabolisme secara kontinu menembus membran dan menyebrang ke kompartemen dialisat. Di lain pihak, cairan dialisat mengalir dengan kecepatan 500 mL/menit ke dalam kompatemen dialisat. Selama proses hemodialisis, heparin diberikan untuk mencegah pembekuan darah ketika berada diluar vaskular.(handbook)
Prinsip hemodialisis melibatkan difusi zat terlarut melalui suatu membran semipermeabel yang ada pada dialyzer. Darah yang mengandung hasil sisa metabolime dengan konsentrasi tinggi dilewatkan pada membran semipermeabel pada dialyzer, dimana dalam waktu yang bersamaan juga dialirkan dialysate dengan arah yang berlawanan (counter current) ke dalam dialyzer. Membran semi permeabel yang biasa digunakan dalam dialyser yaitu membran selulosa, membran selulosa yang diperkaya, membran selulosa sintetik dan membran sintetik. Besar pori-pori pada selaput semipermeabel akan menentukan besar molekul zat terlarut yang berpindah. Perpindahan zat terlarut pada awalnya berlangsung cepat tetapi kemudian melambat sampai konsentrasinya sama di kedua kompartemen.
Gambar 2 Aliran counter current antara darah dan dialysate pada dialyzer



Perbedaan konsentrasi zat terlarut dalam darah akan dijadikan sebagai Driving Force untuk mendorong zat terlarut masuk ke dalam dialysate melewati membran semipermeabel. Molekul dengan berat molekul lebih besar akan berdifusi lebih lambat dibandingkan dengan molekul dengan berat molekul yang lebih rendah. Kecepatan perpindahan zat terlarut akan semakin tinggi apabil perbedaan konsentrasi di kedua kompartemen semakin besar, peningkatan tekanan hidrostatik di kompartemen darah sehingga lebih tinggi dari kompartemen dialisat, peningkatan tekanan osmotik di kompartemen dialisat sehingga lebih tinggi dari kompartemen darah.
Gambar 2 proses difusi partikel zat terlarut dari darah ke dialyzer melalui membran semipermeable





Pada proses dialisis, air juga dapat berpindah dari kompartemen darah ke kompartemen cairan dialisat dengan cara menurunkan tekanan hidrostatik pada kompartemen cairan dialisat. Perpindahan cairan ini disebut ultrafiltrasi.
Gambar 3 Proses ultrafiltrasi air dari darah ke dialyzer melalui membran semipermeabel

by sgd a4 cefazolin

apakah yang akan aku tulis


















masih kurang mengerti mengenai apa yang akan aku tulis disini...